Mau Tahu Rahasia Seputar Presiden Jokowi? Inilah 8 Diantaranya

Loading...

Pada 20 Oktober 2016, Joko Widodo genap dua tahun memimpin Republik Indonesia.
Sepak terjangnya kerap menjadi bahan diskusi panas, baik oleh para pemujanya maupun pembencinya.
Mulai dari kebijakan pemerintahan hingga hal remeh temeh dalam perikehidupannya.Mau Tahu Rahasia Seputar Presiden Jokowi? Inilah 8 Diantaranya
Terlepas dari segala pro dan kontra, harus diakui Jokowi –sapaan akrab Joko Widodo, adalah presiden yang unik.
Karakternya yang sederhana, membumi, dan serba spontan sangatlah berbeda dibandingkan dengan presiden-presiden terdahulu  republik ini.
Berikut delapan kisah unik Jokowi di mata staf Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Happy Kurniawan Harinto dan Eko Sulistyo, Deputi IV – Kedeputian Komunikasi dan Diseminasi Informasi.
1.Rahasia di Balik Buku Tulis
 Meski telah menjadi presiden, Jokowi tak pernah menanggalkan kesederhanaan dan kebiasaan lamanya.
Sebelumnya, saat menjabat sebagai Gubernur DKI  Jakarta, ia sering kali membagikan buku tulis kepada anak-anak.
Biasanya, hal itu ia lakukan ketika  blusukan.
Nah, hal ini pula yang masih ia lakukan hingga kini.
Ketika bertolak ke berbagai daerah di tanah air, di dalam mobil RI-1 miliknya, setidaknya terdapat 2.000 hingga 3.000 buku tulis yang siap ia bagikan.
Buku itu berbeda dengan buku tulis pada umumnya.
Di sampul buku atau di dalamnya kerap terdapat kata mutiara yang dibuatnya sendiri.
Seperti, “Membacalah, dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan.”
Ada juga kata-kata unik, bergaya pantun. “Beli duku sama Bang Muin, sekolah dulu baru main.”
Menurut Happy Kurniawan Harinto, pengolah sosial media jokowi saat pilpres, Jokowi memang menyukai anak-anak kecil.
“Pak Jokowi senang sama anak-anak, apalagi yang sumringah,” ujarnya .
Sebenarnya, Jokowi tak hanya membagikan buku ketika tiba di lokasi.
Usut punya usut, dia tak segan untuk turun dari mobil R1-1 saat melihat anak-anak di pinggir jalan.
Misalnya saja saat kunjungannya ke Aceh pada Maret 2016.
Kala itu, iring-iringan rombongan presiden mendadak berhenti.
Para pengawalnya spontan terkaget-kaget karena menduga terjadi apa-apa.
Ternyata, mobil Jokowi berhenti bukan karena ada sesuatu yang tidak beres.
Pria murah senyum ini hanya ingin memberikan buku kepada tiga anak yang berdiri di pinggir jalan.
2. Tak Menyukai Teks
Setiap presiden tentu memiliki gaya dan keunikannya tersendiri saat berbicara di depan publik.
Ada yang berapi-api, ada yang kaku penuh tata cara, ada pula yang sederhana alias tidak bertele-tele.
Nah, gaya terakhir inilah yang dimiliki Jokowi.  
“Pak Jokowi memang bukan orator, dia lebih menunjukkan aspek yang sifatnya action oriented,” ungkap Eko saat ditemui Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.
Menurut Eko, Jokowi enggan menggunakan teks karena ia percaya diri dan menguasai topik yang akan diutarakannya.
Bahkan, Presiden Ke-7 Republik Indonesia ini, kerap menggunakan slide presentasi untuk menyampaikan pesan dan gagasannya.
Padahal, penggunaan slide ini terbilang rumit.
Namun, ada juga bisik-bisik berseliweran di dunia maya yang mengatakan bahwa gaya pidato Jokowi tak spesial.
Mereka menyarankan agar Jokowi meningkatkan kemampuan pidatonya.
3. Jarang Sarapan
Sarapan umumnya menjadi satu rutinitas banyak orang pada pagi hari.
Namun, tidak untuk Jokowi.
Selidik punya selidik, ia ternyata jarang nyarap pada pagi hari. 
Kadang kala dia hanya mengisi perutnya dengan makanan ringan seperti telur rebus.
Jadi, jangan membayangkan menu sarapan presiden kita ini mewah.
Bahkan  untuk makanan sehari-hari, mantan Wali Kota Surakarta ini lebih menyukai menu sederhana dan tradisonal macam nasi liwet, sayur asam, dan tempe.
Biasanya, kalau tak menyantap telur rebus, Jokowi hanya meminum jamu, madu, atau air putih pada pagi hari.
Jamunya campuran temu lawak, jahe, dan kunir.
Pernah di suatu kesempatan Happy bertanya pada dirinya yang jarang menyarap pada pagi hari.
Jawab bapak tiga anak tersebut singkat saja, “Tidak, saya cukup minum air putih saja.”
4.  Juga Bisa Marah
Manusia mana yang tak pernah marah? Sesabar apa pun seseorang, pasti pernah juga emosinya menyeruak.
Demikian pula dengan Jokowi.
Bagaimana ekspresi Jokowi saat marah?
“Bapak (Jokowi) lebih cenderung diam saat marah,” ungkap Eko.
Jokowi jarang meluapkan kemarahannya melalui kata-kata.
Dia hanya diam.
Namun, orang-orang di sekelilingnya bisa merasakan bahwaJokowi sedang marah.
Terutama dari sorot matanya.
Eko sendiri pernah mengalaminya saat masa kampanye Pilpres 2014.
Kala itu dirinya diminta untuk mengumpulkan Satgas anti-money politics.
Namun, pesan Jokowi yang dititipkan melalui seorang ajudan tak utuh diterimanya.
Alih-alih mengumpulkan Satgas, Eko malah menghimpun masyarakat dan relawan dengan jumlah yang tak sedikit.
Ketika tiba waktunya, Eko menyadari ada sesuatu yang ganjil dari penampilan Jokowi di atas panggung.
Lantas dia pun meminta untuk ditempatkan semobil bersamaJokowi seusai kegiatan tersebut.
Di dalam mobil Jokowi hanya berkata singkat, “Bukan itu yang saya maksud.”
Singkat tapi menohok.
5. Bisa Tidur di Mana saja
Sebagai orang nomor satu di Indonesia, Jokowi agendanya sangat padat.
Kegiatan-kegiatan tersebut tentu menguras energinya.
Jika tak pandai-pandai mengatur waktu beristirahat, kesehatan pasti terganggu.
Sayangnya, menurut cerita Eko dan Happy, Jokowi selalu tidur di atas pukul 12 malam karena kesibukannya.
Padahal orang berusia 26-64 tahun butuh tidur 7-9 jam per hari.
Lantas bagaimana Jokowi bisa beristirahat secara efektif?
Nah, selidik punya selidik, ternyata Jokowi mudah terlelap saat di perjalanan kala hendak berkunjung ke sesuatu tempat.
“Pak Jokowi tuh ngobrol sebentar, enggak sampai 10 menit bisa tertidur,” cerita Happy. 
6. Tak Suka Nasi Kotak
Sejak dilantik 20 oktober dua tahun silam, Jokowi rutin merima tamu negara di lingkungan istana.
Mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat umum.
Bahkan, dia juga pernah mengundang  para supir metromini dan tukang ojek untuk makan siang bersama.
Nah, saat mengundang tamu negara, ada aturan main yang diberlakukan Jokowi.
Aturan ini berlaku untuk semua tamu.
Aturannya sederhana, yakni tak boleh menyajikan nasi kotak.
Menurutnya setiap tamu mesti diperlakukan secara istimewa.
Sebelumnya, pada waktu tertetu Jokowi kerap mengajak tamunya untuk makan bersama di luar istana.
Mulai dari wartawan, masyarakat, hingga pejabat pemerintah.
Dalam kegiatan itu, penyajian makanan adalah salah satu hal yang diamatinya.
Nah, pernah suatu saat hanya makanan kotak saja yang disajikan.
Alhasil,  ia pun langsung memintanya untuk menggantinya dengan prasmanan.
7. Memberi Teladan, Bukan Nasihat
Pernah suatu waktu saat menjadi Wali Kota Surakarta, ia mengajak anaknya, Kaesang Pangarep, untuk berkeliling kota menggunakan mobil.
Sebelumnya, di dalam mobil itu Jokowi telah meletakan beras kiloan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar.
“Bapak (Jokowi) pernah membangunkan tukang becak untuk memberinya beras, bahkan sampai tukang becak itu kaget, karena wali kota yang membangunkannya,” cerita Eko yang sudah mendampingi Jokowi sejak di Surakarta.
Tindakan yang dilakukannya itu bukanlah sekadar untuk membantu masyarakat kecil.
Ternyata, Jokowi juga punya maksud khusus.
Ia berharap perbuatannya itu bisa  menjadi teladan bagi anaknya.
“Le, itu masih banyak yang kurang beruntung daripada kamu,” tutur Eko meniru perkataan Jokowi pada anaknya.
 8. Punya 30 Kucing
Selain gemar memelihara kecebong, Jokowi juga memiliki kegemaran memelihara burung kicauan.
Kicauan demi kicauan senantiasa meramaikan kediamannya di Solo.
Saking senangnya, dia memiliki 10 jenis burung kicauan.
Mulai dari cucak rowo, jalak, parkit, hingga perkutut.
Selain itu, Presiden RI ini juga pernah melepaskan 190 burung di Kebun Raya Bogor.
Burung-burung itu dibelinya di Pasar Pramuka, Jakara timur.
Selain gemar memelihara burung, Jokowi  juga gemar bercocok tanam.
Tanaman yang ditanamnya pun beragam.
Sedangkan Istri dan anak-anakya, lebih menyukai kucing sebagai hewan peliharaan.
Sewaktu menjadi Wali Kota Surakarta, mereka memiliki 30 ekor kucing peliharaan.
Namun, kini jumlahnya tak lebih dari 10 ekor.
Sebab, kucing-kucing itu diberikan kepada rekan dan kerabatnya yang ingin memeliharanya. (IntisariOnline/Ilham Pradipta M)

Artikel Terkait